Chocolateholic

Haeni Sari Purwanti | 31 Juli 1991 | Koleris Sanguin | ♥ H
#Manchunian :) | Suka #Merah #Cokelat | "THE ONE AND ONLY !!" (^_^)9

“..Bahwa berbuat baik, termasuk di dalamnya saling menasehati adalah tanggung-jawab (responsibility). Tidak pernah menjadi pilihan (choice).”

—   Tere Liye  (via sekotakcokelat)

“Masih pantas disebut teman? Punya teman berasa bukan teman. Ingin dipedulikan tapi tak peduli.”

“Peduli kepada orang yang tidak peduli dengan kita? Sama saja menimbun kecewa.”

—   Fu*k

“Menahan diri untuk peduli = meminimaisir rasa kecewa terhadap orang disekitar”

“Awalnya orang tertarik pada apa yang nampak padamu tapi yang bertahan di sampingmu adalah yang dia terima kualitasmu bukan lagi tampakmu.”

—   Catatan Hati Anak Sulung (via air-sunyi)

(via elli-setiawan)

“Hidup itu harus siap, kalo ngak di patahkan ya mematahkan, jadi harus siap!”

—   (via ranselku-bawa-aku-pergi)

(Yang Kadang Terjadi Ketika) Membuktikan Rindu

ranselku-bawa-aku-pergi:

nezhafath:

Beberapa dari kita selalu punya berkarung-karung toleransi kepada banyak hal.

Salah satunya, nggak pernah bisa marah terhadap seseorang.
Misal, di sebuah perjanjian ketemu dengan seorang sahabat yang molor satu jam— dan dia tak juga memberimu kabar, kamu sudah merencanakan akan melakukan apa…

Kamu ngak akan pernah bisa marah dengan beberapa orang…
Sudah memperjuangkan demi pertemuan, tapi ngak ada kabar, apalagi tiba-tiba ngak jadi, itu pasti sering terjadi.. :)

“Berfokuslah pada kegembiraan yang bisa Anda temukan dalam pekerjaan kecil yang sederhana.

Itu awalnya.”

—   Mario Teguh (via marioteguh)
mandalawangi:

dokterfina:

andinavika:

Berteman jangan hanya yang membuat kita nyaman namun yang dapat memaksa kita untuk berkembang juga :)

Dan selalu mendoakan kita untuk sukses :’)

nah !

Jika tidak keduanya, pantaskah kita menyebutnya dengan panggilan “teman” ?

mandalawangi:

dokterfina:

andinavika:

Berteman jangan hanya yang membuat kita nyaman namun yang dapat memaksa kita untuk berkembang juga :)

Dan selalu mendoakan kita untuk sukses :’)

nah !

Jika tidak keduanya, pantaskah kita menyebutnya dengan panggilan “teman” ?

(via ranselku-bawa-aku-pergi)

“Janganlah sibuk menyesali masa lalu. Kehidupan ini bukan untuk kau jalani dengan mundur.

Berdamailah dengan masa lalumu. Majulah.”

—   Mario Teguh (via marioteguh)

“1 + 1 = 0 , bukan lagi 2 atau lebih dari itu atau mungkin saja minus.”

“Ego kita terlalu tinggi untuk menengahi komunikasi antara aku dan kamu .”

Dukungan itu nyata

Seseorang pernah mengatakan padaku tentang perbedaan antara Fans dengan Supporter. Pada dasarnya dukungan nyata yang membedakan keduanya. Sama halnya antara teman dan sahabat. Semua orang bisa kita sebut teman, namun tidak dengan sahabat.

“Meskipun belum sempat menjadi kekasih, menjadi orang yang diistimewakan. Mungkin cukup untuk mencoba mendampingi dari belakang, meskipun hanya sesekali dilihat ada di belakang tanpa digandeng tangannya dari belakang untuk memposisikan diri ada disampingnya”

—   Kukuhpujil

“Jakarta itu Kota mainstream buat saya, dari dulu sampai sekarang. Tapi entah kenapa tiba tiba pengen kesana yah? Hanya untuk sekedar mengunjungi. :)”